Senin, 01 Juni 2009
Hi, I am from Pare. And I speak English…
14 August, 2006 in Write
Bila ada kisah penguasaan Bahasa Inggris bisa mengubah nasib atau karir seseorang, itu biasa. Kalau bahasa Inggris mampu mengubah wajah suatu perkampungan, itu baru di laur kebiasaan. Hal yang belakangan inilah yang terjadi di Kota Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Kota kecamatan kecil yang terletak 24 kilometer timur laut dari Kota Kediri ini, selain terkenal dengan komoditas madu lebah dan sawo manila, kini memiliki beberapa desa yang dilekati predikat sebagai “kampung Inggris”. Bukan, bukan karena banyak bule yang berlalu-lalang di sana, melainkan karena menjamurnya tempat kursus Bahasa Inggris di wilayah ini.
Tulungrejo dan Pelem, dari dua desa inilah paling tidak sebutan kampung Inggris berasal. Di sana berderet puluhan lembaga kursus yang mengajarkan kemampuan berbahasa Inggris pada ribuan anak muda dari berbagai daerah di Indonesia. Sebut saja Basic English Course (BEC), Effective English Conversation Course (EECC), Mahesa Institute, Smart International Language College, Manggala English Zone dan sederet nama lainnya. Sebagian besar lembaga kursus ini baru berdiri empat atau lima tahun yang lalu, tetapi beberapa diantaranya telah dikenal sebagai pusat belajar bahasa Inggris sejak awal tahun 1990-an. Bahkan BEC, yang diakui sebagai pendahulu dari semua lembaga kursus yang ada di Pare, sudah berdiri sejak tahun 1977.
Meski terkenal sebagai Kampung Inggris, sebetulnya bukan hanya Bahasa Inggris saja yang ditawarkan oleh lembaga kursus di kawasan Tulungrejo dan Pelem, tetapi juga bahasa Jepang, Mandarin dan Arab. Hanya saja jumlah lembaga dan peminatnya tidak sebanyak di tempat kursus bahasa Inggris, tak heran jika wilayah ini lebih dikenal sebagai kampung Inggris ketimbang julukan lainnya.
“Yang paling awal berkembang dan diminati memang kursus Bahasa Inggris. Saat ini dari 84 lembaga di seluruh Kecamatan Pare, paling tidak 80-an persen mengajarkan Bahasa Inggris,” ungkap Muhammad Kalend (61), pendiri BEC sekaligus tokoh yang berada di balik perkembangan sentra kursus bahasa Inggris di Pare.
Mister Kalend, demikian ia biasa disapa penduduk sekitar dan para siswa kursus, mendirikan BEC di akhir tahun 1970-an awalnya untuk membantu sejumlah mahasiswa yang kesulitan memahami teks-teks bahasa Inggris. Ia memperoleh kemampuan berbahasa Inggris berkat bimbingan almarhum Ustadz Yazied, pengelola Pondok Pesantren Darul Falah, Pare. Ustadz ini kondang sebagai ahli bahasa dan konon sekurangnya 8 bahasa asing dikuasainya. Kini, berkat ketelatenan Mister Kalend selama 28 tahun BEC tumbuh menjadi lembaga kursus terbesar di Pare dengan siswa mencapai 800 orang setiap enam bulannya.
Laris Tanpa Iklan
Citra Pare, terutama Desa Tulungrejo dan Pelem sebagai “Kampung Inggris” telah memikat minat banyak anak muda dari berbagai daerah di Indonesia. “Saya tahu Pare dari cerita teman saya. Katanya ada kampung Inggris di mana semua orang memakai Bahasa Inggris untuk bahasa sehari-hari. Biaya kursus pun murah-murah, ada yang hanya Rp. 15.000 sebulan. Siapa yang tidak tertarik?,” kata Muttahar, peserta kursus di BEC asal Gerung, Lombok Barat. Dari cerita itu, seusai lulus dari SMA, ia bersama empat temannya memutuskan untuk mengasah kemampuan berbahasa Inggris di Pare untuk bekal mencari pekerjaan. Dalam enam bulan, ia telah lancar dan percaya diri bercakap-cakap dalam bahasa global ini.
Isyam, mahasiswa di Universitas Islam Negeri (UIN) Yogyakarta yang mengambil kelas percakapan di REC (Rhima English Course), menyempatkan diri ke Pare untuk membuktikan cerita gurunya di SMA mengenai keefektifan sistem pengajaran bahasa Inggris di Pare. Lain halnya dengan Basyar, rekan kos Isyam, yang mengaku ikut kursus untuk membekali diri menjadi pengajar di kursus bahasa Inggris di Bantul. Karena itu ia mengambil beberapa program di tempat kursus yang berlainan. “Selain itu, kursus ini untuk persiapan ikut ujian masuk perguruan tinggi di Gadjah Mada. Saya berencana mengambil jurusan Sastra Inggris,” ujarnya mantap.
Seperti halnya pengalaman Muttahar, Isyam dan Basyar, sebagian besar peserta kursus memang mengetahui kisah kampung Inggris hanya dari cerita mulut ke mulut. “Selama ini memang tidak ada tempat kursus yang memasang iklan di media massa, paling banter hanya membuat selebaran dan ditempel disekeliling kampung. Jadi informasi diperoleh dari mulut ke mulut,” kata Afid, pengelola dan pengajar REC. Ia sendiri punya pengalaman berbeda yang mendorongnya untuk belajar Bahas Inggris di Pare. Bukan lantaran reputasi Pare sebagai pusat kursus Bahas Inggris, melainkan gara-gara bersua dengan serombongan gadis yang cas cis cus berbincang dalam bahasa Inggris saat di atas bis antar kota.
Kampung Inggris Julukan Kosong?
Meskipun berjuluk kampung Inggris, jangan dibayangkan wajah Tulungrejo dan Pelem seperti permukiman di luar negeri atau kawasan wisata yang dijejali turis asing seperti di Sosrowijayan, Yogyakarta atau Jalan Jaksa, Jakarta. Suasana di dua desa ini lebih mirip dengan suasana kawasan di sekitar kampus perguruan tinggi. Selain warung makan yang tampak bertebaran, terlihat juga persewaan komputer dan rumah-rumah kos. Jajaran tempat kursus dengan spanduk dan papan nama aneka warna mendominasi sepanjang jalan-jalan utama, terutama di Jalan Brawijaya dan Jalan Anyelir, seakan mencoba meneguhkan julukan Kampung Inggris. Tetapi dinamika ini ditangkap dengan cara pandang lain oleh Mister Kalend.
“Meskipun sudah puluhan ribu orang belajar bahasa Inggris di sini, saya tidak setuju kalau wilayah sini disebut kampung Inggris. Soalnya, warga asli tetap masih banyak yang tidak mengenal Bahasa Inggris. Peserta kursus pun sebagian besar masih berbincang dalam Bahasa Indonesia dan bahasa daerah, termasuk ketika di tempat kursus. Jadi mana bisa disebut Kampung Inggris?”, kata Mister Kalend dengan nada menggugat.
Baginya, julukan kampung Inggris baru layak disematkan jika sebagian besar orang di setiap waktu dan di semua tempat berbicara dalam bahasa Inggris. “Itu pun dengan cara ucap yang tepat, bukan Inggris Jawa, Inggris Sunda atau Inggris Madura,” imbuhnya sembari tertawa. Inggris Jawa, Inggris Sunda maupun Inggris Madura adalah kelakar Mister Kalend untuk menggambarkan cara pelafalan Bahasa Inggris secara medok yang banyak dipraktekkan oleh siswa-siswa yang berbahasa ibu Bahasa Jawa, Sunda atau Madura.
Pendapat Kalend diamini oleh Afid. “Tapi kalau empat atau lima tahun lalu, saya masih setuju dengan julukan kampung Inggris,” ungkap bujangan asal Tulungagung yang akrab dipanggil Mr.Qumpriet oleh para siswanya ini. Menurutnya, saat itu kondisinya lebih mendukung untuk mempraktekkan bahasa Inggris secara aktif setiap hari mulai dari lokasi kursus, warung makan sampai tempat kos.
“Waktu itu setiap tempat kos memiliki pengurus yang membuat program untuk mempraktekkan bahasa Inggris,” lanjut Afid. Ia menilai etos belajar semacam itu mulai luntur, sehingga atmosfir untuk mempraktekkan bahasa Inggris kurang terjaga. Sedang mengenai julukan “Kampung Inggris”, senada dengan Mr. Kalend, Afid menduga alasan bisnis-lah yang melatarbelakanginya. “Bahasa Inggris di sini kan sudah menjadi komoditas, barang jualan. Jadi wajar kalau julukan kampung Inggris dijadikan seperti merek dagang oleh banyak lembaga kursus,” tambahnya.
Rejeki Bagi Kampung
Lepas dari tepat tidaknya Pare menyandang julukan Kampung Inggris, menjamurnya tempat-tempat kursus di Tulungrejo dan Pelem menjadi sumber rejeki dan meningkatkan taraf ekonomi masyarakat setempat. Banyak rumah penduduk yang disewa untuk dijadikan tempat kursus, meskipun lebih banyak lagi yang dirombak menjadi tempat kos. Selain itu, bermunculan pula warung makan dan jasa pencucian pakaian yang menjadi sumber pendapatan tambahan.
Namun perkembangan ini tidak lantas membuat biaya hidup melonjak. Seperti halnya biaya kursus yang relatif murah, ongkos makan pun sama murahnya. Rata-rata sekali makan dengan menu nasi dan lauk pauk lengkap beserta minuman hanya menghabiskan Rp. 3.500. Biaya kos juga tidak seberapa mahal, berkisar antara Rp. 40.000 hingga Rp. 100.000 per bulan dengan fasilitas kamar berukuran 2 x 3 meter, alas tidur dan lemari pakaian.
Potensi ekonomi sampingan dari bisnis ini memang luarbiasa. Coba bayangkan saja berapa perputaran uang di dua desa ini apabila setiap enam bulan sekali sekurangnya 2000 orang datang bergantian dari berbagai penjuru Indonesia. Hitung saja jika masing-masing peserta kursus membelanjakan, katakanlah minimal Rp. 200.000, maka setiap bulan perputaran uang di Tulungrejo dan sekitarnya mencapai Rp. 400juta. “Padahal saat bulan-bulan liburan sekolah dan kuliah, peminat kursus bisa membludak sampai 5000-an orang,” ujar Afid. Artinya, perputaran uang dalam sebulan di dua desa itu berlipat hingga Rp. 1 milyar!
Angka tersebut tentu bukan nilai yang kecil bagi penduduk yang kebanyakan berprofesi sebagai petani. Tak heran jika lima tahun belakangan ini, seiring makin populernya kawasan Tulungrejo dan Pelem sebagai sentra kursus bahasa Inggris, wajah fisik desa mengalami banyak perubahan. Jalan-jalan tanah di tengah kampung disulap menjadi jalan beraspal mulus dan rumah-rumah penduduk semakin mentereng.
Akan tetapi, di balik geliat ekonomi ini terselip juga ironi. Hampir tidak ada warga asli Pelem dan Tulungrejo yang terlibat langsung dalam pengelolaan tempat-tempat kursus, baik sebagai pengelola maupun pengajar. Banyak diantara anak mudanya yang memutuskan bekerja sebagai buruh pabrik dan profesi lain di berbagai kota, padahal peluang kerja di desanya masih terbuka lebar. “Mungkin mereka merasa gengsi, tapi saya kurang tahu kenapa? Barangkali karena tidak menguasai Bahasa Inggris,” duga Mr. Kalend.
Barangkali inilah pekerjaan rumah terbesar bagi para pengelola lembaga kursus dan masyarakat Pare, yakni menjadikan kaum mudanya dengan percaya diri berkata; “Hi, I am from Pare. And I speak English.”
****
It’s a wow seeing this post glutted with comments! Thanks buddies! Since I’d only spent two days in Pare (in 2006!), I didn’t manage to dig extensive infos but few about the course programs and supported facilities out there. Sorry. Please scroll down comment by comment below to get other facts about Kampung Inggris or visit sites enlisted below. Good luck
.jpg)
PROFIL
BASIC ENGLISH COURSE
BEC PARE –KEDIRI
Nama : BASIC ENGLISH COURSE
( Kursus Dasar Bahasa Inggris )
Pendiri : M. Kalend.O
Direktur : M. Kalend.O
Berdiri : Pare, 15 Juni 1977
Alamat : Jl. Anyelir No. 8 RT/RW 02/XII Singgahan Pelem
PO BOX 146 PARE Phone ( 0354 ) 392987
PARE KEDIRI JAWA TIMUR 64201
Alumni : Alhamdulillah + 15.000 ( sejak Mei 2008 )
Periode : saat ini periode TC 101 JJA 2008
Program : Lama belajar selama 6 bulan
A.PROGRAM BELAJAR
1. BASIC TRAINING CLASS ( BTC )
- Program awal jika anda belajar di BEC
- Pada program ini berorentasi pada pemahaman dasar speaking / basic speaking
- Lama belajar selama satu bulan
- Materi yang dipelajari menitikberatkan pada pemabahasan 16 tenses
- Evaluasi belajar melalui tiga hal , ujian harian ,ujian akhir tulis , setiap jum’at ujian lisan
- Pada minggu pertama selama satu bulan setiap siswa baru wajib mengikuti program tutorial
- Tutorial program menitikberatkan dasar –dasar penyusunan kalimat dalam speaking.
- Tutorial dibimbing oleh peserta program MS
- Masuk kelas selama lima hari dalam seminggu setiap senin s.d. jum’at
- Setelah mengikuti program belajar di kelas mereka harus mengikuti program study club
- Setiap malamnya selama seminggu dua kali mereka wajib mengiukuti
program nighly speaking.
2. CANDIDATE OF TRAINING CLASS ( CTC )
- Program lanjutan dari BTC dan persiapan menuju program CTC
- Lama belajar di CTC selama dua bulan
- Pada program CTC siswa dituntut untuk menghafal New Concept English book unit 1-15.
- Pada program ini materi yang ditekankan pada siswa bisa memahami
kalimat pasif / Passive Voice dan kalimat langsung / tidak langsung ( Direct Indirect )
- Masuk belajar sama dengan BTC setiap senin s.d. jum’at.
- Setiap hari jum’at , mereka wajib mengikuti program meeting dan ujian lisan.
- Setelah selesai program kelas mereka wajib mengikuti program study club
dan nightly speaking.
- Pengajar menyampaikan materi di kelas dengan dua bahasa , bahasa Inggris dan Indonesia
- Prosentase penyampaian materi 50% bahasa Inggris dan 50%bahasa Indonesia.
- Setiap senin dan kamis , mereka wajib menghafal dan membuat percakapan
dari buku New Concept English.
- Akhir program CTC terdapat program Closing Meeting , Final New Concept
dan Final Written Exam.
3. TRAINING CLASS ( TC )
- Merupakan program akhir yang ditempuh selama tiga bulan
- Program ini menitik beratkan pada speaking , grammar , writing dan listening
- Penyampaian materi di kelas 100% berbahasa Inggris.
- Dalam keseharian baik dalam dan luar kelas mereka wajib berbahasa Inggris 100%.
- Masuk belajar selama enam kali dalam seminggu ( senin – sabtu )
- Program menghafal dan membuat percakapan dalam buku New Concept English tetap ada.
- Meeting program dilaksanakan dua kali seminggu pada bulan pertama ,
dan pada bulan kedua setiap sabtu pagi.Ditempuh untuk menentukan kelulusan .
- Pada akhir bulan ketiga diadakan ujian akhir bertemu dan praktek
dengan orang asing di Candi Borobudur.
- Akhir program akan diadakan Farewell Party / Perpisahan dan Heart to Heart / sharing.
B. INFO PENDAFTARAN
I. MASA /WAKTU PENDAFTARAN
1. Masa pendaftaran dibuka empat kali dalam setahun yaitu
1. Pada tanggal 1 Pebruari
2. Pada tanggal 1 Mei
3. Pada tanggal 1 Agustus
4. Pada tanggal 1 Nopember
2. Sebelum tanggal diatas, setiap calon siswa BEC wajib mengambil no antri daftar
2 ( dua ) hari sebelum waktu pendaftaran dengan membawa KTP / KK/ SIM
dan tidak bisa diwakilkan harus datang sendiri ke BEC.
Misalkan, untuk periode yang akan datang ! Pengambilan nomor untuk antri daftar
akan dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 29 April 2009 jam 07.00 pagi dengan
membawa KTP/ KK/SIM dan pendaftaran untuk masuk BEC akan dilangsungkan
pada hari Jum'at, 1 Mei 2009 jam 07.30 pagi. Persyaratan tertulis dikartu nomor anda! Terima kasih.
3. PENDAFTARAN DAPAT DITUTUP SEWAKTU –WAKTU APABILA
JUMLAH SISWA TELAH TERPENUHI WALAUPUN SEBELUM AKHIR
BULAN PENDAFTARAN.
4. Program belajar dimulai pada bulan berikutnya setelah masa pendaftaran.
5. Waktu pendaftaran dibuka setiap hari pertama pada bulan pendaftaran pada pukul 07.30 pagi.
II. PERSYARATAN ADMINISTRATIF
1. Mengisi formulir pendaftaran
2. Menyerahkan satu lembar foto copy KTP / Identitas diri lain yang masih berlaku.
3. Menyerahkan satu lembar foto copy STTB terakhir.
4. Menyerahkan 3 lembar pas photo ukuran 3x4 ( berwarna )
5. Pendaftaran tidak boleh diwakilkan
6. Melunasi uang pendaftaran + SPP BTC
III. BIAYA
1. Uang Pendaftaran + Uang bulanan BTC sebesar Rp.200.000,- ( Dengan uang pas )
2. Uang bulanan CTC dan TC masing –masing Rp.60.000,/ bulan
3. Uang transportasi ujian praktek ke Borobudur menyusul
IV. CARA PENDAFTARAN
1. DAPATKAN KARTU CN dari petugasnya !
2. Masuk keruang pendaftaran :
a. Pilih kelas yang anda masuki !
b. Setelah itu, serahkan Kartu CN dan semua persyaratan kepada petugas.
c. Setelah itu mengisi formulir , Kartu CN akan diganti dengan Kartu Meeting Card oleh petugasnya.
3. Selesai , Selamat jalan. Semoga jumpa lagi pada acara Perkenalan dan pengarahan.
Ingat ! Ketika hadir pada acara tersebut bawalah kartu meeting card sebagai bukti bahwa anda sudah mendaftar.
CATATAN ;
1. Pengambilan nomor panggilan tidak boleh diwakilkan
2. Tunjukkan kartu identitas saat pengambilan nomor panggilan
3. Ketika anda hadir pada saat pendaftaran nanti, anda kami persilahkan duduk dengan tertib untuk menunggu pannggilan.
4. Perhatian ! Bagi nomor anda yang kami panggil berturut –turut 3x tidak hadir dinyatakan batal dan gagal nomor panggilan tersebut.
5. Sekalipun sudah mendapat kartu panggilan tetapi persyaratan tidak lengkap dinyatakan batal dan tidak diterima.
6. Jika nomor anda tidak dipanggil berarti batas penerimaan siswa baru dinyatakan sudah selesai atau pendaftaran teleh ditutup.
V. JADWAL KURSUS
- Pagi : Pukul 06.30 s.d. 09.00 untuk kelas A dan F
Pukul 08.00 s.d. 10.30 untuk kelas B dan G
Pukul 09.30 s.d. 12.00 untuk kelas C dan H
- Siang : Pukul 13.30 s.d. 16.00 untuk kelas D dan I
Pukul 14.00 sd. 16.30 untuk kelas E dan J
- Jadwal kursus bisa berubah sewaktu-waktu apabila situasi dan kondisi memungkikan.
VI. TEMPAT PENDAFTARAN
Di BEC OFFICE , Jl. Anyelir no.8 RT/ RW 01/ XII Singgahan Pelem Pare. PO BOX 146
Phone ( 0354 ) 392987.
VII. PELAYANAN INFORMASI
Jika kurang jelas keterangan ini segera hub kami
Di kantor BEC , buka pada pagi dan siang hari.
Pagi : pukul 07.00 s.d. 11.30 WIB
Siang : pukul 13.30 s.d. 16.00 WIB.
VIII. LAIN –LAIN
- Pakaian bebas pantas bersepatu
- Sanggup dan aktif mengikuti program
- Khusus bagi muslimat diwajibkan berjilbab
SIISWA
Menggagas Kampung Berbahasa Inggris
TERBAYANG tiga tahun lalu saat saya memutuskan pergi belajar bahasa Inggris di Tulung Rejo, Pare, Kediri, Jawa Timur karena selama enam tahun belajar bahasa Inggris di bangku sekolah saya merasa tidak bisa apa-apa. Hal itu saya lakukan setelah dalam kondisi bingung harus belajar bahasa Inggris di mana lagi, akhirnya bertemu kawan lama yang pernah belajar bahasa Inggris di Pare.
Setelah cerita panjang lebar mengenai kondisi di sana dan keuntungannya, saya akhirnya mantap untuk berlajar bahasa internasional itu di Pare. Dalam bayangan saya saat itu, untuk belajar, peserta akan ditempatkan di ruang belajar khusus -yang didesain sedemikian rupa- agar anak-anak bisa dengan gampang belajar.
Ternyata, bayangan itu salah. Tempat yang semula saya bayangkan dengan gedung besar dan bertingkat, ternyata hanyalah sebuah desa di pinggiran Kota Kediri yang suasananya benar-benar masih alami.
Ketika diantar teman mendaftar ke salah satu tempat kursus bahasa Inggris, tempat belajarnya adalah rumah warga yang disulap menjadi beberapa ruang untuk belajar.
Hampir semua tempat kursus di sana ternyata dulunya adalah rumah warga yang dikontrakkan atau disewa oleh sebagian orang sebagai tempat kursus bahasa Inggris.
Beberapa bulan saya terus mengamati sekaligus bertanya-tanya dalam hati, apa sebenarnya yang ditawarkan dari desa kecil itu sehingga membuat hampir semua orang dari penjuru Indonesia tertarik dan rela datang hanya untuk belajar bahasa Inggris.
Apakah di tempat mereka sendiri tidak ada tempat kursus bahasa Inggris? Kalau dilihat fasilitas untuk proses belajarnya, ternyata tidak ada gedung mewah dan peralatan modern.
Semua berkesan sangat alami karena para peserta hanya belajar dengan fasilitas seadanya tanpa bantuan laboratorium bahasa.
Hampir di satu kampung itu banyak berdiri tempat kursus bahasa Inggris. Kampung itu seperti "Kampung Inggris". Belajar bahasa Inggris serasa di Inggris dan menjadi sangat gampang karena lingkungannya sangat mendukung untuk selalu bisa mempraktikannya.
Dari tempat belajar sampai tempat indekosnya hampir semuanya mengajarkan bahasa Inggris. Bahkan mbok-mbok yang berjualan nasi pecel di warung dekat tempat kursus itu bisa berbahasa Inggris, walaupun hanya dengan percakapan pendek seperti how much (berapa), mereka bisa mengucapkannya.
Bahasa Inggris dibuat sedemikian dekat dengan mempraktikannya setiap hari sehingga tidak menjadi asing lagi di telinga. Sebab, sebenarnya esensi belajar bahasa adalah selalu membiasakan dan terus mempraktikkannya.
Paling tidak, setelah beberapa bulan melihat secara langsung sekaligus ikut belajar di sana, saya simpulkan hal itu sebagai suasana belajar yang lain dibanding dengan belajar di sekolah-sekolah.
Ya, belajar bahasa Inggris di sana memang dilakukan sebagai habitual action (kebiasaan sehari-hari) serta didukung dengan metode penyampaian pelajaran yang runtut dan detail.
Itu berbeda dengan belajar di sekolah pada umumnya, siswa dibuat bingung dengan apa yang disampaikan oleh guru. Di samping guru tidak membiasakan bahasa Inggris dalam keseharian, juga guru dalam menerangkan tidak runtut dan cenderung hanya mengejar target materi pelajaran. Akibatnya, banyak siswa yang tidak bisa menguasai bahasa Inggris sekalipun belajar selama beberapa tahun.
Adopsi
Begitu pulang ke Kudus, pikiran saya terus terusik bagaimana seandainya kampung bahasa Inggris seperti di Pare itu ada di Kudus? Tentu anak-anak yang kesulitan menyerap bahasa Inggris tak usah jauh-jauh belajar ke sana.
Akhirnya saya memberanikan diri mengadakan pembelajaran bahasa Inggris di desa dengan mengadopsi sistem-sistem proses pembelajaran di Pare dan mencoba menerapkannya di Kudus. Yang terbayang hanya bagaimana di Kudus benar-benar ada "Kampung Bahasa Inggris" dan bisa besar layaknya di Pare.
Setidaknya, saat ini yang penulis rintis dengan beberapa kawan untuk menggiatkan pembelajaran bahasa Inggris alternatif di pinggiran Kota Kudus bagian timur. Yakni di Desa Temulus, Kecamatan Mejobo. Sudah hampir tiga tahun ini pebelajaran alternatif bahasa Inggris berjalan di desa itu.
Di bangku sekolah, bahasa Inggris merupakan bahasa yang harus dikuasai siswa. Apalagi ketika dikaitkan dengan nilai ujian nasional (UN) yang cenderungan terus menaikkan standar minimal dalam kelulusan. Sekarang standar nilai kelulusan 4,26.
Standar tersebut tentu sangat berat bagi siswa jika hanya mengandalkan belajar bahasa Inggris dari bangku sekolah tanpa diimbangi dengan mencoba mempraktikkannya di lingkungannya.
Ketika siswa lulus dan mencari pekerjaan, bahasa Inggris juga menjadi syarat utama sekaligus menentukan. Saat ini banyak perusahaan yang mencantumkan persyaratan harus menguasai bahasa asing bagi pelamarnya, terutama bahasa Inggris, di samping persyaratan lain.
Paling tidak, mereka harus bisa short conversation (percakapan pendek) yang akan dijadikan modal untuk diterima di sebuah perusahaan.
Saat ini, seseorang yang tidak bisa berbahasa Inggris bisa dibilang ketinggalan zaman. Istilahnya, anak muda ''kurang gaul''. Sebab, zaman globalisasi dan kemajuan teknologi ini sangat erat kaitannya dengan penguasaan bahasa Inggris. Seperti penguasaan komputer, membuat e-mail, dan buka internet, sekaligus sebagai alat berkomunikasi dengan bangsa negara-negara lain. Sebab, bahasa Inggris adalah bahasa komunikasi internasional. (54n)
- Penulis adalah pengelola pendidikan alternatif bahasa Inggris dan taman baca EFB di Desa Temulus, Kecamatan Mejobo, Kudus.
Langganan:
Komentar (Atom)

