SIISWA
Menggagas Kampung Berbahasa Inggris
TERBAYANG tiga tahun lalu saat saya memutuskan pergi belajar bahasa Inggris di Tulung Rejo, Pare, Kediri, Jawa Timur karena selama enam tahun belajar bahasa Inggris di bangku sekolah saya merasa tidak bisa apa-apa. Hal itu saya lakukan setelah dalam kondisi bingung harus belajar bahasa Inggris di mana lagi, akhirnya bertemu kawan lama yang pernah belajar bahasa Inggris di Pare.
Setelah cerita panjang lebar mengenai kondisi di sana dan keuntungannya, saya akhirnya mantap untuk berlajar bahasa internasional itu di Pare. Dalam bayangan saya saat itu, untuk belajar, peserta akan ditempatkan di ruang belajar khusus -yang didesain sedemikian rupa- agar anak-anak bisa dengan gampang belajar.
Ternyata, bayangan itu salah. Tempat yang semula saya bayangkan dengan gedung besar dan bertingkat, ternyata hanyalah sebuah desa di pinggiran Kota Kediri yang suasananya benar-benar masih alami.
Ketika diantar teman mendaftar ke salah satu tempat kursus bahasa Inggris, tempat belajarnya adalah rumah warga yang disulap menjadi beberapa ruang untuk belajar.
Hampir semua tempat kursus di sana ternyata dulunya adalah rumah warga yang dikontrakkan atau disewa oleh sebagian orang sebagai tempat kursus bahasa Inggris.
Beberapa bulan saya terus mengamati sekaligus bertanya-tanya dalam hati, apa sebenarnya yang ditawarkan dari desa kecil itu sehingga membuat hampir semua orang dari penjuru Indonesia tertarik dan rela datang hanya untuk belajar bahasa Inggris.
Apakah di tempat mereka sendiri tidak ada tempat kursus bahasa Inggris? Kalau dilihat fasilitas untuk proses belajarnya, ternyata tidak ada gedung mewah dan peralatan modern.
Semua berkesan sangat alami karena para peserta hanya belajar dengan fasilitas seadanya tanpa bantuan laboratorium bahasa.
Hampir di satu kampung itu banyak berdiri tempat kursus bahasa Inggris. Kampung itu seperti "Kampung Inggris". Belajar bahasa Inggris serasa di Inggris dan menjadi sangat gampang karena lingkungannya sangat mendukung untuk selalu bisa mempraktikannya.
Dari tempat belajar sampai tempat indekosnya hampir semuanya mengajarkan bahasa Inggris. Bahkan mbok-mbok yang berjualan nasi pecel di warung dekat tempat kursus itu bisa berbahasa Inggris, walaupun hanya dengan percakapan pendek seperti how much (berapa), mereka bisa mengucapkannya.
Bahasa Inggris dibuat sedemikian dekat dengan mempraktikannya setiap hari sehingga tidak menjadi asing lagi di telinga. Sebab, sebenarnya esensi belajar bahasa adalah selalu membiasakan dan terus mempraktikkannya.
Paling tidak, setelah beberapa bulan melihat secara langsung sekaligus ikut belajar di sana, saya simpulkan hal itu sebagai suasana belajar yang lain dibanding dengan belajar di sekolah-sekolah.
Ya, belajar bahasa Inggris di sana memang dilakukan sebagai habitual action (kebiasaan sehari-hari) serta didukung dengan metode penyampaian pelajaran yang runtut dan detail.
Itu berbeda dengan belajar di sekolah pada umumnya, siswa dibuat bingung dengan apa yang disampaikan oleh guru. Di samping guru tidak membiasakan bahasa Inggris dalam keseharian, juga guru dalam menerangkan tidak runtut dan cenderung hanya mengejar target materi pelajaran. Akibatnya, banyak siswa yang tidak bisa menguasai bahasa Inggris sekalipun belajar selama beberapa tahun.
Adopsi
Begitu pulang ke Kudus, pikiran saya terus terusik bagaimana seandainya kampung bahasa Inggris seperti di Pare itu ada di Kudus? Tentu anak-anak yang kesulitan menyerap bahasa Inggris tak usah jauh-jauh belajar ke sana.
Akhirnya saya memberanikan diri mengadakan pembelajaran bahasa Inggris di desa dengan mengadopsi sistem-sistem proses pembelajaran di Pare dan mencoba menerapkannya di Kudus. Yang terbayang hanya bagaimana di Kudus benar-benar ada "Kampung Bahasa Inggris" dan bisa besar layaknya di Pare.
Setidaknya, saat ini yang penulis rintis dengan beberapa kawan untuk menggiatkan pembelajaran bahasa Inggris alternatif di pinggiran Kota Kudus bagian timur. Yakni di Desa Temulus, Kecamatan Mejobo. Sudah hampir tiga tahun ini pebelajaran alternatif bahasa Inggris berjalan di desa itu.
Di bangku sekolah, bahasa Inggris merupakan bahasa yang harus dikuasai siswa. Apalagi ketika dikaitkan dengan nilai ujian nasional (UN) yang cenderungan terus menaikkan standar minimal dalam kelulusan. Sekarang standar nilai kelulusan 4,26.
Standar tersebut tentu sangat berat bagi siswa jika hanya mengandalkan belajar bahasa Inggris dari bangku sekolah tanpa diimbangi dengan mencoba mempraktikkannya di lingkungannya.
Ketika siswa lulus dan mencari pekerjaan, bahasa Inggris juga menjadi syarat utama sekaligus menentukan. Saat ini banyak perusahaan yang mencantumkan persyaratan harus menguasai bahasa asing bagi pelamarnya, terutama bahasa Inggris, di samping persyaratan lain.
Paling tidak, mereka harus bisa short conversation (percakapan pendek) yang akan dijadikan modal untuk diterima di sebuah perusahaan.
Saat ini, seseorang yang tidak bisa berbahasa Inggris bisa dibilang ketinggalan zaman. Istilahnya, anak muda ''kurang gaul''. Sebab, zaman globalisasi dan kemajuan teknologi ini sangat erat kaitannya dengan penguasaan bahasa Inggris. Seperti penguasaan komputer, membuat e-mail, dan buka internet, sekaligus sebagai alat berkomunikasi dengan bangsa negara-negara lain. Sebab, bahasa Inggris adalah bahasa komunikasi internasional. (54n)
- Penulis adalah pengelola pendidikan alternatif bahasa Inggris dan taman baca EFB di Desa Temulus, Kecamatan Mejobo, Kudus.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar